Beranda NASIONAL Soal TBBM Dawuan, Jambul Merah Siap Turun Gunung Dampingi Warga

Soal TBBM Dawuan, Jambul Merah Siap Turun Gunung Dampingi Warga

32
0
Jambul Merah Dukung Mahasiswa Kawal Aspirasi Warga Dekat TBBM Dawuan. (AlexaPodcast.ID)
Jambul Merah Dukung Mahasiswa Kawal Aspirasi Warga Dekat TBBM Dawuan. (AlexaPodcast.ID)

KARAWANG, AlexaPodcast.ID – Aktivis sosial yang dikenal dengan sebutan Jambul Merah (JM) menyatakan dukungannya terhadap gerakan mahasiswa yang tengah mengadvokasi warga Desa Dawuan Barat, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang.

‎Pria yang memiliki nama asli Ferry Alexa itu menilai langkah mahasiswa dalam mendampingi masyarakat merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan warga yang tinggal di sekitar Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Dawuan milik Pertamina.

‎Menurut JM, keberadaan fasilitas penyimpanan bahan bakar dengan risiko tinggi seharusnya diiringi dengan perhatian serius terhadap keamanan masyarakat di sekitarnya, bukan sekadar berdiri kokoh di balik tembok pembatas.

‎“Saya mendukung mahasiswa yang melakukan pendampingan kepada masyarakat terdampak,” ujar JM, Senin (9/3/2026).

‎Ia menegaskan, pada waktu yang tepat dirinya siap turun langsung untuk mengawal aspirasi warga agar mendapat perhatian dari pihak terkait.

‎“Nanti pada waktunya saya akan turun gunung,” katanya.

‎JM juga mengingatkan bahwa perusahaan pengelola fasilitas energi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut merasa aman, bukan justru hidup dengan kekhawatiran.

‎“Pertamina harus bertanggung jawab,” tegasnya.

‎Ia menambahkan, momentum bulan suci Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk mengangkat isu perjuangan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan hak warga.

‎“Ini bulan yang sangat baik untuk mengangkat bendera perjuangan,” ujarnya.

‎Sementara itu, kekhawatiran warga Dawuan Barat mencuat setelah mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Rakyat (AMPPERA) melakukan peninjauan langsung di sekitar area Terminal BBM Dawuan.

‎Koordinator AMPPERA, Yoga Muhammad Ilham S, mengatakan dari hasil pengamatan di lapangan jarak antara tangki penyimpanan BBM dengan permukiman warga dinilai sangat dekat. Bahkan beberapa rumah warga hanya dipisahkan oleh tembok pembatas dari area operasional terminal.

‎“Kami melihat tidak ada zona penyangga yang memadai antara fasilitas penyimpanan BBM dengan rumah warga,” kata Yoga.

‎Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait aspek keselamatan, mengingat terminal bahan bakar merupakan fasilitas dengan tingkat risiko operasional yang tinggi.

‎Mahasiswa bersama warga kini mendorong adanya perhatian dan langkah konkret dari pihak terkait agar keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut benar-benar menjadi prioritas, bukan sekadar catatan di atas kertas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini