Yakin, dengan Gaya Hustle Culture Anda Bisa Menjadi Sukses? Simak Penjelasannya!

2 minutes reading
Saturday, 18 Mar 2023 08:10 0 97 admin

Bandung, AlexaPodcast.ID — Istilah Hustle Culture sedang populer di kalangan anak muda. Istilah ini merujuk pada gaya hidup yang menganggap normal bahwa untuk menjadi sukses, seseorang harus bekerja lebih banyak dan lebih keras.

Psikolog dari UGM, Indrayanti, M.Si., Ph.D., Psikolog., mengatakan hustle culture merupakan sebuah istilah yang berkembang dari workaholic.

Gaya hidup seperti sangat berbahaya untuk kesehatan fisik dan mental.

“Dalam pikiran itu harus keras bekerja, bukan bekerja keras dengan startegi. Ambisius untuk terus aktif sehingga tidak peka dengan sinyal-sinyal dalam tubuhnya hingga saat banyak stresor masuk tubuhnya ambruk, stres, burnout, terjadi  kelelahan psikologis,” paparnya dalam keterangan tertulis di laman UGM.

Bahkan seringkali orang tidak menyadari jika telah masuk ke dalam gaya hidup hustle culture, kata Indrayanti, karena telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Adapun ciri-ciri Anda telah terjerat hustle culture yaitu memikirkan terus pekerjaan di setiap waktu dan tempat serta terjadi ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

“Tidak sempat untuk memikirkan kebahagiaan sendiri, worklife balance-nya tidak ada,” ujarnya.

Selain itu, merasa ada sensasi fisik dalam dirinya seperti pusing, sakit perut, tidak enak badan yang sering dikeluhkan karena pekerjaan yang terlalu berat. Sedangkan secara mental merasa kurang percaya diri dan insecure. Jarang merasa puas terhadap apa yang telah dikerjakan, merasa masih ada yang salah dan harus terus bekerja agar sempurna.

Penyebab menjadi hustle culture ini karena melihat orang lain dan sering membandingkan diri dengan orang lain.

“Generasi muda perlu untuk tetap terkoneksi secara riil dengan lingkungan dan berkolaborasi. Hal tersebut bisa membuka pikiran masing-masing dan mengetahui jika fenomena yang terjadi tidak hanya dihadapi dirinya sendiri tetapi juga oleh orang lain,” ungkapnya.

Dengan begitu, perasaan untuk selalu membandingkan diri dengan orang lain bisa ditekan dan mencari solusi dengan  berkolaborasi untuk kebermanfaatan masyarakat dan bangsa. (Siska)

Share Link :

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
error: Content is protected !!