Sering Begadang dan Jarang Olahraga Berisiko Stroke di Usia Muda

2 minutes reading
Monday, 30 Oct 2023 10:42 0 80 Redaksi Alexa

KARAWANG, AlexaPodcast.ID — Dokter spesialis neurologi Dr. dr. Rakhmad Hidayat, Sp.S(K), MARS, dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSUPN Cipto Mangunkusumo), mengungkapkan bahwa kebiasaan begadang dan kurangnya aktivitas olahraga dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya stroke pada usia muda.

Dalam sebuah diskusi daring tentang tanda dan gejala stroke, Dr. Rakhmad menjelaskan bahwa tren stroke pada usia muda, terutama di usia 30-an, semakin meningkat karena banyak orang yang memiliki kebiasaan begadang, bekerja hingga larut malam tanpa tidur cukup, dan seringkali mengabaikan olahraga.

Menurut Dr. Rakhmad, faktor risiko stroke, seperti gaya hidup tidak sehat, sebenarnya bisa dicegah. Namun, sayangnya, sering kali faktor-faktor ini berkontribusi pada kasus stroke pada usia muda. Beberapa gaya hidup yang berperan mencakup kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak teratur, tekanan darah tinggi, dan kadar gula darah yang tinggi.

Dr. Rakhmad juga menyatakan bahwa usia dan jenis kelamin merupakan faktor risiko yang tidak dapat diubah. Pada umumnya, laki-laki berisiko tinggi mengalami stroke setelah usia 45 tahun, sementara wanita setelah usia 55 tahun.

Namun, meskipun usia dan jenis kelamin tidak bisa diubah, faktor risiko lainnya dapat diperbaiki, mengurangi kemungkinan terjadinya stroke, dan membantu seseorang untuk hidup lebih sehat.

Rakhmad menjelaskan bahwa stroke dapat terjadi tanpa adanya tanda atau gejala awal yang jelas. Penyebab utama stroke adalah sumbatan dalam pembuluh darah akibat penumpukan plak kolesterol dan pecahnya pembuluh darah yang melemah. Faktor risiko seperti merokok dan obesitas memiliki peran utama dalam perkembangan stroke.

Menurut Dr. Rakhmad, penanganan stroke harus dilakukan dalam waktu 4,5 hingga 6 jam setelah serangan terjadi. Pasien perlu segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, seperti obat pengencer bekuan darah.

Jika pengobatan tahap pertama berhasil, pasien akan diminta untuk memperbaiki faktor risiko gaya hidup dan mungkin menjalani fisioterapi untuk menghindari kecacatan dan memulihkan fungsi tubuh.

Dr. Rakhmad mendorong kesadaran akan faktor risiko dan langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko terjadinya stroke, terutama pada usia muda. (JP)

Share Link :

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA
error: Content is protected !!